Contoh Proses Disosiatif

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Proses sosial disosiatif merupakan proses perlawanan (oposisi) yang dilakukan individu-individu dan kelompok dalam proses sosial di antara mereka pada suatu masyarakat. Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional proccesses, yang persis halnya dengan kerjasama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi diartikan cara berjuang melawan seseorang atau kelompok tertentu atau nilai dan norma yang dianggap tidak mendukung perubahan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahan, oposisi proses-proses yang disosiatif dibedkan dalam tiga bentuk, yaitu : persaingan, kompetisi dan konflik.

Bila kita kaitkan kepada konflik Libya sesuai dengan bahasan kami, maka kita akan menemukan bahwa bentuk proses sosial disosiatif yang terjadi bukanlah kompetisi ataupun persaingan, namun lebih kepada konflik. Konflik dapat terjadi bukan saja Negara dengan Negara namun juga bisa dari masalah internal Negara itu sendiri, celakanya masalah internal dalam negeri Libya ini ternyata mempengaruhi sikap dari Negara-negara lain yang ikut campur tangan terhadap masalah Libya ini, bahkan NATO pun ikut campur dalam masalah ini, ini menandakan bahwa NATO pun memiliki kepentingan terhadap negeri Libya sehingga ikut campur dalam membantu para oportunis Khadafi dalam mengatasi kaum loyalis Khadafi.

1.2  Landasan Teori

Permasalahan di Libya jelas telah memasuki tahap konflik. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan.

Dalam menyikapi konflik yang terjadi ini, dari segi sosiologis kita mengenal adanya teori  konflik. Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial.

Perkembangan konflik biasanya melewati tiga tahapan, yaitu:

1. Latent Tension (unreal conflict), konflik masih dalam bentuk kesalahpahaman antara satu dengan lainnya, tetapi anatara pihak yang bertentangan belum terlibat dalam konflik.

2. Nescent Confilct, konflik mulai tampak dalam bentuk pertentangan meskipun belum menyertakan ungkapan-ungkapan ideologis dan pemetaan terhadap pihak lawan secara terorganisir.

3. Intensified Conflict, konflik berkembang dalam bentuk yang terbuka disertai dengan radikalisasi gerakan di antara pihak yang saling bertentangan dan masuknya pihak ketiga ke dalam arena konflik.

Disini kami memandang permasalahan yang terjadi di Libya telah memasuki tahap Intensified Conflict, dimana tahap ketiga yang masuk adalah dari NATO.  

 

1.3  Perumusan Masalah

  1. Apa penyebab konflik Libya dan mengapa konflik Libya terjadi?
  2. Bagaimana kronologis peristiwa dalam konflik Libya?
  3. Siapa saja aktor yang terlibat dalam konflik Libya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1        PENYEBAB KONFLIK LIBYA DAN MENGAPA HAL ITU DAPAT TERJADI

Penyebab-penyebab konflik Libya ada beberapa faktor atau motif yang mendasarinya, hal-hal tersebut diantaranya adalah:

1)      Motif sejarah, sejarah konflik daerah kota-kota timur Libya dengan pemerintah Khadaffi merupakan sejarah lama. Benghazi adalah Ibukota Libya pada zaman Raja Idris. nampaknya para pengikut Raja Idris saat ini mungkin ingin “mengembalikan kerajaan” mereka yang dikudeta Khadaffi tahun 1969, memanfaatkan momen gelombang demo di Timur Tengah dan Afrika Utara. telah terjadi juga demo tahun 1990 dan 2005 di Benghazi.

2)      Motif dikekangnya kebebasan berpendapat. Pemerintah Libya sangat represif terhadap kebebasan pers, berserikat dan berkumpul selama 42 tahun kepemimpinan Muammar Khadaffi, setiap ada riak-riak kritisme pasti langsung dibabat habis. Gerakan oposisi di Libya sangat sulit berkembang. Pers dibatasi sehingga tak dapat menyuarakan kritik membangun mereka kepada Pemerintah.

3)      Motif pelanggaran HAM. Kebijakan tangan besi Khadaffi terhadap lawan-lawan politiknya melalui penangkapan dan pemenjaraan. Terutama peristiwa penembakan 1000 tahanan politik di Penjara Abu Salim tahun 1996 termasuk menjadi pemicu utama dendam para oposisi.

4)      Untuk motif ekonomi sebenarnya tidaklah terlalu kuat, karena sebagaimana kita ketahui Libya merupakan salah satu Negara termakmur di Afrika. Pendapatan perkapita rakyat Libya adalah $12,020 (World Bank 2009). Itupun ditambah kemudahan-kemudahan berupa subsidi dari pemerintah dalam pembelian rumah, mobil, kebutuhan sehari-hari. Setiap bulan dibagikan 500 dinar (senilai 400 dolar) bagi setiap keluarga. Kehidupan rakyat Libya cenderung malas karena banyak dimanjakan subsidi pemerintah, maka banyak pemuda yang memilih menganggur karena merasa sudah hidup cukup. Adapun yang mengatakan kondisi ekonomi rakyat Libya banyak dibawah garis kemiskinan adalah alasan yang dicari-cari. Libya adalah negeri sosialis, praktis kesenjangan tidak terlalu kentara walau dari waktu ke waktu semenjak lepas embargo 2003 arah pendulum kebijakan pemerintah Libya semakin cenderung ke bisnis kapitalis. Tetapi, pembangunan antara kota-kota timur Libya cukup lambat, menyebabkan rakyat Libya di kota-kota timur tersebut merasa dianaktirikan (hal ini menjadi faktor pendukung rakyat timur Libya banyak menjadi oposan).

Pemberontakan yang dilakukan pihak oposan sebenarnya

 

2.2  KRONOLOGIS PERISTIWA KONFLIK LIBYA

Kronologi Perang Libya Sejak 16 Februari 2011 Hingga 18 Maret 2011

16-20 Februari 2011

Pada tanggal 16 Februari 2011, bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan pasukan keamanan dimulai di Benghazi, Libya yang merupakan kota terbesar keduanya. Seiring kekerasan menyebar ke kota-kota lain, pasukan oposisi mengambil alih kontrol bagian timur Libya, termasuk Benghazi.

Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan 10 orang tewas di al-Baida dan pasukan keamanan telah mengepung kota. Saksi melaporkan bahwa sebuah helikopter menembaki kerumunan orang di Benghazi dan tentara bentrok dengan pengunjuk rasa di pawai pemakaman.

Para pengunjuk rasa menggunakan mobil yang dipenuhi dengan bahan peledak dan sebuah tank dalam upaya untuk masuk ke sebuah markas militer di dekat Benghazi.

21-23 Februari 2011

Quryna, sebuah surat kabar pro-pemerintah, melaporkan bahwa tentara bayaran Afrika melepaskan tembakan ke arah warga sipil di Tajouraa.

Saksi di Tripoli mengatakan kepada CNN bahwa pesawat tempur dan helikopter sedang melakukan serangan udara di sekitar ibukota. Pemerintah Libya membantah bahwa pesawat itu digunakan untuk melawan pengunjuk rasa, melainkan menargetkan depot senjata di daerah terpencil.

Di Tobruk, kantor polisi dan bangunan lainnya telah dirampok oleh para separatis. Seorang pemimpin setempat mengatakan para anggota separatis tersebut mengancam untuk memotong ekspor minyak dari Libya timur.

24-25 Februari 2011

Pertempuran besar antara pasukan pendukung pemimpin Libya Moammar Gadhafi dan demonstran anti-pemerintah menyebar ke Zawiya, Tajura, Misrata dan berlanjut ke Tripoli.

Pasukan oposisi mengambil kendali Misrata pada tanggal 24 Februari 2011, demikian menurut saksi dan laporan media.

Dokter di sebuah rumah sakit di Zawiya mengatakan 17 orang-orang tewas dan 150 luka-luka dalam pertempuran di sana. Setelah sebelumnya surat kabar pro-pemerintah melaporkan bahwa tentara bayaran menembak pada warga sipil tidak bersenjata di Tajura, dekat Tripoli.

Di dalam ibukota, saksi mata mengatakan artileri dan penembak jitu digunakan dan pasukan keamanan menembakkan senjata dan gas air mata untuk membubarkan orang banyak.

26-28 Februari 2011

Setelah mengambil alih Zawiya, pasukan anti pemerintah dipukul mundur oleh pasukan Gadhafi, menurut seorang pemimpin oposisi. Seorang pejabat di rezim Gadhafi membantah bahwa pasukan pemerintah menyerang kota.

Sebuah jet militer membom sebuah pangkalan militer dekat Ajdabiya, sebuah kubu oposisi, menurut laporan, seorang saksi mengatakan bahwa pasukan oposisi menghalangi serangan terhadap sebuah stasiun radio ke Misrata.

Anti-pasukan pemerintah mengambil alih kota Nalut, dekat perbatasan Tunisia, namun Pasukan Libya yang setia kepada Gadhafi kembali mengambil alih dalam hitungan hari.

1-3 Maret 2011

Pihak militer Libya meningkatkan upaya untuk merebut kembali daerah yang direbut oleh pemberontak. Pesawat tempur Libya menjatuhkan bom di dekat alBrega Ajdabiya dalam dua hari berturut-turut. Al-Brega memiliki tambang minyak yang penting dan tambang gas alam.

Tindak kekerasan yang terlukiskan menghantam Zawiya, demikian menurut seorang saksi yang mengatakan pasukan pro-pemerintah menyerang demonstran dengan mortir dan senapan mesin. Pejuang pro-Gadhafi juga berperang dengan pasukan oposisi di Ras Lanuf dan Misrata.

Pasukan anti pemerintah sukses dalam menjaga Zawiya dan Misrata, dan juga mengambil alih Ras Lanuf, sebuah kota minyak yang strategis.

Serangan udara juga menghantam sebuah depot senjata di Benghazi serta jalan utama yang menuju Ras Lanuf.

Televisi pemerintah mengatakan bahwa pasukan pemerintah telah memperoleh kendali atas Tobruk, namun saksi mata mengatakan bahwa tempat tersebut masih di bawah kendali pasukan oposisi. Pasukan Gadhafi tampak hanya memperoleh kendali atas kota Bin Jawad.

8-9 Maret 2011

Pasukan pemberontak menembakkan senapan anti serangan udara ketika pasukan udara Libya menyerang Ras Lanuf. Sebuah tanker penyimpanan minyak terkena tembakan dalam pertempuran ini, menandakan pertama kalinya infrastruktur minyak di negeri ini rusak oleh pertempuran.

Pasukan yang setia pada Gadhafi mengatakan bahwa mereka telah mengambil alih kembali kekuasaan di Zawiya, tapi pertempuran di sana masih terus berlangsung, demikian dilaporkan oleh para saksi mata dan juga dapat disaksikan melalui siaran video. Di dekat Zuwarah, saksi mata mengatakan bahwa situasi tegang, dengan adanya pendukung Gadhafi yang mengelilingi kota, tapi banyak kegiatan usaha yang tetap berjalan seperti biasa.

Kota-kota lain yang juga telah dikendalikan oleh pasukan oposisi, termasuk Nalut, Ajdabiya, dan Misrata, juga dilaporkan dalam keadaan tenang.

10-12 Maret 2011

Setelah bertempur selama seminggu, pasukan pemerintah mengambil alih kendali Zawiya dari tangan pasukan oposisi. Seorang reporter ITV mengatakan bahwa dokter-dokter menginformasikan sangat banyak warga sipil yang terluka maupun terbunuh dalam serangan ini. Pasukan pemerintah terus membombardir Ras Lanuf dengan roket, senjata artileri, dan tank. Keadaan pada waktu itu sangatlah kacau.

13-15 Maret 2011

Pasukan pro-Gadhafi mengambil kontrol al-Brega. Pemimpin oposisi mengkonfirmasikan hal ini namun mengatakan bahwa ini adalah sebuah rencana taktis. Beberapa waktu kemudian, masih tidak jelas siapa yang telah mengendalikan al-Brega.

Pasukan pemerintah melanjutkan penyerangan ke arah timur dan berhasil menyerang serta mengendalikan Ajdabiya dari tangan pasukan pemberontak.

Di Libya bagian barat, pasukan pro-Gadhafi yang memiliki tank dan persenjataan artileri berat bertempur dengan pasukan pemberontak di Zuwara selama berjam-jam sebelum berhasil mengambil alih kota tersebut.

18 Maret 2011

UN Security Council menyetujui adanya zona larangan terbang bagi Libya, dan juga mengizinkan penggunaan senjata untuk melindungi warga sipil. Pemerintah Libya menanggapi keputusan ini dengan mengadakan gencatan senjata darurat dengan pihak pemberontak.

 

2.3  AKTOR-AKTOR KONFLIK LIBYA

 

Konflik Libya di dalangi oleh dua kekuatan utama yakni antara kekuatan dari Pemerintah yang dipimpin oleh Muammar Khadaffi dan yang di dukung oleh para loyalisnya yang sangat setia yang jumlahnya pun tidak sedikit. Sedangkan kekuatan yang kedua adalah para Oposan yang menentang pemerintahan Khadaffi yang tidak setuju terhadap pemerintahannya karena mereka merasa bahwa pemerintahan Khadaffi bertindak sewenang-wenang dan terlalu otoriter. Lagipula, pers pada pemerintahan Khadaffi sangatlah dibatasi peranannya sehingga pada akhirnya semua rakyat yang menentang Khadaffi berkumpul dan bersatu karena sudah merasa tidak tahan terhadap pemerintahannya. Berikut ini adalah perbandingan kekuatan antara pihak pemerintah dan loyalis Khadaffi melawan kekuatan dari para demonstran oposan yang menentang Khadaffi,

Kekuatan Khadaffi :

  • 80.000 tentara regular.
  • 20.000 komite revolusi
  • Kabilah-kabilah fanatik dan pendukung “Libya kepemimpinan Gaddafi”
    Kekuatan Oposisi :
  • 100.000 orang turun ke jalan. Sebagian bersenjata hasil rampasan dari gudang2 senjata tentara pemerintah dan dari tentara yang membelot.
  • Kabilah-kabilah fanatik dan pendukung “Libya Kepemimpinan Raja Idris”
  • Dukungan media
  • Dukungan Internasional

Selain daripada dua kekuatan utama di atas, masih ada pihak lain yang ikut campur dalam konflik Libya ini, pihak lain yang dimaksud adalah NATO yang notabene adalah pendukung bagi pihak Oposan yang berusaha untuk menjatuhkan Pemerintahan tangan besi rezim Khadaffi. Pastinya, ada maksud terselubung dibalik keikutsertaan atau campur tangan NATO dalam konflik Libya ini. Dan dunia pun pasti sudah tahu apa yang diinginkan mereka, apalagi selain motif minyak bumi.

Krisis politik di Libya akan berdampak secara global, terutama bagi pasokan energi minyak dan gas dunia. Selama ini negara-negara Barat dan Uni Eropa mendapatkan pasokan minyak dari negeri Afrika Utara itu. Muammar Gadhafi yang berkuasa selama empat dekade, ikut menjamin stabilitas dan kebutuhan energi dunia.

Perusahaan minyak yang sudah melakukan investasi ke Libya adalah BP (British Petroleum), yang telah melakukan investasi besar-besaran ke Libya. Sekarang BP sudah mengungsikan para pekerja mereka beserta keluarganya kembali ke negaranya. 140 pegawai minyak dan keluarganya dari BP telah dipulangkan menyusul situasi di Libya yang semakin genting. Perang terbuka antara rakyat dengan militer terjadi di ibukota Tripoli, dan terjadi pembakaran gedung pemerintahan sepanjang hari. Dampak konflik ini akan sangat mengancam stabilitas energi dunia, dan akan berdampak terhadap ekonomi global. Minyak dan gas Libya sangat penting bagi negara-negara Barat dan Uni Eropa yang industri mereka sangat tergantung dari minyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Konflik Libya yang kita amati beberapa waktu terakhir merupakan suatu konflik yang berakar pada masalah-masalah Pemerintahan yang otoriter yang dipimpin oleh Muammar Khadaffi sebagai pemimpin dari rezim tersebut. Konflik ini melibatkan tiga pihak yang ikut memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing. Awalnya hanya dua kekuatan saja yang berseteru yakni antara pemerintah yang dipimpin oleh Khadaffi melawan rakyatnya sendiri yang menjadi Oposan atas Khadaffi dikarenakan asumsi bahwa pemerintahan Khadaffi yang terlalu lama ini terlalu otoriter karena Khadaffi memimpin dengan “tangan Besi” sehingga menimbulkan aksi protes di seluruh wilayah Libya. Melihat gelagat bahwa Libya sedang dalam posisi yang kacau, NATO melihat berbagai keuntungan yang akan mereka peroleh apabila mereka masuk dalam konflik ini dengan kata lain mereka berusaha untuk berintervensi dengan alasan untuk membantu Libya terutama para Oposan untuk mengalahkan posisi Muammar Khadaffi sebagai penguasa bertangan besi. Mereka (NATO) masuk ke dalam konflik dengan alasan bahwa mereka ikut menyelesaikan konflik Libya. Parahnya, dunia percaya akan apa yang mereka kemukakan padahal jika kita telaah lebih lanjut, ada maksud terselubung dibalik keikutsertaan NATO dalam konflik Libya ini terutama karena mereka menginginkan minyak Libya, juga karena mereka menginginkan pemerintahan yang baru di Libya sebagai “perpannjangan tangan” mereka agar mereka dapat lebih mencengkeramkan cakar kekuasaan mereka di tanah Afrika dan Timur Tengah.

Muammar Khadaffi sendiri yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu, sebenarnya merupakan penguasa yang cukup lama berkuasa di Libya, bahkan lebih lama daripada pemerintahan Soeharto di Indonesia. Ia menggulingkan pemerintahan melalui kudeta, namun kini ia juga harus rela di “Revolusi”oleh rakyatnya sendiri karena pemerintahannya yang dinilai terlalu otoriter. Pemerintahannya juga terlalu membatasi Pers,  karena itulah pers tidak dapat berkembang di sana dan tidak menjadi alat yang baik untuk mengkritik pemerintah, malah pers dimanfaatkan sebagai alat untuk memperpanjang pemerintahan dari rezim yang berkuasa tersebut yang notabene adalah rezim Khadaffi. Padahal jika kita melihat bahwa loyalis Khadaffi jumlahnya cukuplah banyak, yaitu sebanyak 80.000 tentara reguler dan 20.000 komite revolusi. Namun akhirnya, pada saat ini Khadaffi tumbang dan kalah sehingga membuat cengkeraman NATO makin tajam saja mencengkeram negaara Afrika dan Timur Tengah semakin dalam, tetapi anak Khadaffi sendiri yang masih hidup berjanji untuk terus melanjutkan perjuangan ayahnya. Entah hal tersebut akan terjadi atau tidak, kita lihat saja nanti, kita pantau terus apapun yang akan terjadi nanti sebagai bahasan dan kajian kita selaku mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, juga konteks kita sebagai seorang Penstudi Hubungan Internasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi dan Rujukan

http://blogs.unpad.ac.id/nadiasabrina/?p=16

http://konspirasi.com/timur-tengah/nato-bombardir-tripoli/

http://www.antaranews.com/berita/263790/badan-internasional-desak-penyelesaian-politik-konflik-libya

http://www.porink.com/bloggy/2011/03/18/kronologi-perang-libya-sejak-16-februari-2011-hingga-18-maret-2011/#axzz1btb3KZGp

http://www.inilah.com/read/detail/1443032/ri-layak-jadi-mediator-konflik-libya

http://www.investor.co.id/home/indonesia-serukan-penyelesaian-damai-krisis-libya/8s641

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s